Senin, 24 Agustus 2015

[068] Al Qalam Ayat 019

««•»»
[068] Al Qalam Ayat 019
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 18][AYAT 20]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
19of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=19&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:19

[068] Al Qalam Ayat 018

««•»»
Surah Al Qalam 18

وَلا يَستَثنونَ
««•»»
walaa yastatsnuuna
««•»»
Dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin),
««•»»
and they did not make any exception.[1]
[1] That is, for Allah’s will, by saying, for instance, ‘God willing.’ See 18:24.
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah memberi orang-orang musyrik Mekah nikmat yang banyak yang berupa kesenangan hidup di dunia dan kemewahan-kemewahan dengan maksud untuk mengetahui apakah mereka mau mensyukuri nikmat yang telah diberikan itu dengan mengeluarkan hak-hak orang miskin, memperkenankan seruan Rasul SAW ywg menyeru mereka mengikuti jalan yang benar, tunduk dan taat kepada Allah atau mereka dengan nikmat ini ingin menumpuk harta, menantang seruan Rasul dan menyimpang dari jalan yang benar? Allah akan menimpakan kepada mereka azab yang pedih dan melenyapkan nikmat-nikmat itu dari mereka seandainya mereka tetap ingkar, sebagaimana Allah telah menampakan azab dengan mencabut nikmatnya kepada pemilik-pemilik kebun.

Pemilik kebun itu adalah seorang laki-laki saleh, taat dan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Ia mempunyai sebidang kebun sebagai sumber penghidupannya. Jika ia akan memetik hasil kebunnya itu diberitahukannyalah kepada fakir dan miskin agar mereka datang ke kebunnya, dan langsung memberikan hak-hak mereka yang terdapat dalam hasil kebun itu. Setelah Ia meninggal dunia kebun itu diwarisi oleh anak-anak mereka dan mereka menggarapnya. Pada waktu akan memetik hasil kebun itu mereka pun bermusyawarah apakah mereka tetap melakukan seperti yang telah dilakukan bapak mereka atau mereka membuat rencana baru. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar tetap melakukan apa yang biasa dilakukan bapak mereka, yaitu memberitahukan kepada fakir miskin agar mereka datang pada waktu hari memetik.

Tetapi usul saudara mereka ini ditolak oleh saudara-saudaranya yang lain, sehingga mereka tidak mau memberikan hasil kebun mereka sedikitpun kepada fakir miskin sebagaimana yang telah dilakukan oleh bapaknya. Sekalipun telah diperingatkan oleh saudara yang seorang itu akan bahaya yang mungkin menimpa, tetapi mereka tetap dengan keputusan itu, yaitu memetik kebun itu tanpa memberi tahu lebih dahulu kepada fakir miskin dan seluruh hasil kebun itu akan mereka miliki sendiri tanpa mengeluarkan hak-hak orang lain yang ada di dalamnya. Cerita dilanjutkan pada ayat-ayat berikut:

Maka putra-putra ahli waris pemilik kebun yang mengingkari ketentuan-ketentuan yang biasa dilakukan bapaknya, semasa ia masih hidup, setelah mereka melihat kesuburan tanamannya dan lebatnya buah yang akan mereka petik, mereka pun yakin bahwa semua itu pasti akan menjadi miliknya. Karena itu mereka bersumpah akan memetiknya pagi-pagi benar agar tidak diketahui oleh seorang pun, dan mereka telah berketetapan hati pula tidak akan memberikan hasil kebun itu kepada orang lain walaupun sedikit.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan mereka tidak mengecualikan) di dalam sumpah mereka itu kepada kehendak Allah swt. Ayat ini merupakan jumlah isti`naf atau kalimat permulaan; yakni, kelakuan mereka seperti itu; mereka tidak pernah menggantungkan sumpahnya itu kepada kehendak Allah swt.
««•»»
And they did not make any exception, to their vow, for God’s will (the sentence is a new [syntactically independent] one, in other words: and that was their condition).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 17][AYAT 19]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
18of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=18&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:18

[068] Al Qalam Ayat 017

««•»»
Surah Al Qalam 17

إِنّا بَلَوناهُم كَما بَلَونا أَصحابَ الجَنَّةِ إِذ أَقسَموا لَيَصرِمُنَّها مُصبِحينَ
««•»»
innaa balawnaahum kamaa balawnaa ash-haaba aljannati idz aqsamuu layashrimunnahaa mushbihiina
««•»»
Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari,
««•»»
Indeed we have tested them[1] just as We tested the People of the Garden when they vowed they would gather its fruit at dawn,
[1] That is, the people of Makkah, through famine and hunger.
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah memberi orang-orang musyrik Mekah nikmat yang banyak yang berupa kesenangan hidup di dunia dan kemewahan-kemewahan dengan maksud untuk mengetahui apakah mereka mau mensyukuri nikmat yang telah diberikan itu dengan mengeluarkan hak-hak orang miskin, memperkenankan seruan Rasul SAW ywg menyeru mereka mengikuti jalan yang benar, tunduk dan taat kepada Allah atau mereka dengan nikmat ini ingin menumpuk harta, menantang seruan Rasul dan menyimpang dari jalan yang benar? Allah akan menimpakan kepada mereka azab yang pedih dan melenyapkan nikmat-nikmat itu dari mereka seandainya mereka tetap ingkar, sebagaimana Allah telah menampakan azab dengan mencabut nikmatnya kepada pemilik-pemilik kebun.

Pemilik kebun itu adalah seorang laki-laki saleh, taat dan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Ia mempunyai sebidang kebun sebagai sumber penghidupannya. Jika ia akan memetik hasil kebunnya itu diberitahukannyalah kepada fakir dan miskin agar mereka datang ke kebunnya, dan langsung memberikan hak-hak mereka yang terdapat dalam hasil kebun itu. Setelah Ia meninggal dunia kebun itu diwarisi oleh anak-anak mereka dan mereka menggarapnya. Pada waktu akan memetik hasil kebun itu mereka pun bermusyawarah apakah mereka tetap melakukan seperti yang telah dilakukan bapak mereka atau mereka membuat rencana baru. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar tetap melakukan apa yang biasa dilakukan bapak mereka, yaitu memberitahukan kepada fakir miskin agar mereka datang pada waktu hari memetik.

Tetapi usul saudara mereka ini ditolak oleh saudara-saudaranya yang lain, sehingga mereka tidak mau memberikan hasil kebun mereka sedikitpun kepada fakir miskin sebagaimana yang telah dilakukan oleh bapaknya. Sekalipun telah diperingatkan oleh saudara yang seorang itu akan bahaya yang mungkin menimpa, tetapi mereka tetap dengan keputusan itu, yaitu memetik kebun itu tanpa memberi tahu lebih dahulu kepada fakir miskin dan seluruh hasil kebun itu akan mereka miliki sendiri tanpa mengeluarkan hak-hak orang lain yang ada di dalamnya. Cerita dilanjutkan pada ayat-ayat berikut:

Maka putra-putra ahli waris pemilik kebun yang mengingkari ketentuan-ketentuan yang biasa dilakukan bapaknya, semasa ia masih hidup, setelah mereka melihat kesuburan tanamannya dan lebatnya buah yang akan mereka petik, mereka pun yakin bahwa semua itu pasti akan menjadi miliknya. Karena itu mereka bersumpah akan memetiknya pagi-pagi benar agar tidak diketahui oleh seorang pun, dan mereka telah berketetapan hati pula tidak akan memberikan hasil kebun itu kepada orang lain walaupun sedikit.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka) Kami telah menguji orang-orang musyrik Mekah dengan paceklik dan kelaparan (sebagaimana Kami telah mencoba pemilik-pemilik kebun) atau ladang (ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya) akan memetik buahnya (di pagi hari) di pagi buta, supaya orang-orang miskin tidak mengetahuinya. Maka orang-orang yang memiliki kebun itu mempunyai alasan bila mereka tidak memberikan sedekah kepada mereka; tidak sebagaimana bapak-bapak mereka yang selalu memberikan sebagian dari hasilnya buat orang-orang miskin sebagai sedekahnya.
««•»»
Indeed We have tried them, We have tested the people of Mecca with drought and famine, just as We tried the owners of the garden, the orchard, when they vowed that they would pluck, [that] they would pick its fruits, in the morning, so that the poor folk would not notice them and so that they would not then have to give them of it that [portion] which their father used to give them of it by way of charity.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Ibnu Jarir, Imam Ibnu Abu Hatim dan Imam Wahidi, ketiga-tiganya mengetengahkan sebuah hadis melalui Buraidah. Buraidah menceritakan, bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya mendekat kepadamu dan tidak menjauhimu, dan (aku diperintahkan pula) supaya mengajarimu dan supaya kamu memperhatikan. Suatu keharusan bagimu untuk memperhatikan." Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, ."...dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar."
(QS. Al Haqqah [69]:12)
Hanya saja predikat hadis ini tidak sahih.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 16][AYAT 18]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
17of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=17&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:17

[068] Al Qalam Ayat 016

««•»»
Surah Al Qalam 16

سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ
««•»»
sanasimuhu 'alaa alkhurthuumi
««•»»
Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya) {1492).
{1492) Yang dimaksud dengan belalai di sini ialah hidung. dipakai kata belalai di sini sebagai penghinaan.
««•»»
Soon We shall brand him on the snout.
««•»»

Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang benar-benar sesat dan Allah akan menjadikan mereka hina di dunia. Untuk menyatakan kehinaan mereka itu Allah akan memberi tanda di hidung mereka seakan-akan belalai gajah, sehingga setiap orang mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya. Maksud memberi tanda di hidung mereka ialah semua orang mengetahui bahwa mereka adalah orang jahat dan banyak dosa, sehingga mereka mudah dikenal, seakan-akan mereka telah diberi tanda di hidung mereka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kelak akan Kami beri tanda dia di belalainya) Kami akan menjadikan tanda pada hidungnya, yang menyebabkannya cacat seumur hidup. Maka dia terpotong-potong hidungnya ketika perang Badar.
««•»»
We shall brand him on the snout: We shall leave a distinguishing mark upon his nose, one by which he will be reviled for as long as he lives; and so his nose was chopped off by a sword at Badr.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 15][AYAT 17]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
16of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=16&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:16