Sabtu, 04 Juli 2015

[068] Al Qalam Ayat 001

««•»»
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.

««•»»

Surah Al Qalam 1

وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
««•»»
nuun waalqalami wamaa yasthuruuna
««•»»
Nun
{1490}, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
{1490} Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
««•»»
Nūn. By the Pen and what they write:
««•»»

Nun, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini?

Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu:

  • Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, "Allah sajalah yang mengetahui maksudnya." Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat.
  • Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:
  1. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka "Alif" adalah keringkasan dari "Allah", "Lam" keringkasan dari "Jibril", dan "Mim" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; "Alif" keringkasan dari "Ana", "Lam" keringkasan dari "Allah" dan "Ra" keringkasan dari "Ar-Rahman", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah.
  2. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
  3. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan "Alif" adalah "Alif", yang dimaksud dengan "Lam" adalah "Lam", yang dimaksud dengan "Mim" adalah "Mim", dan begitu seterusnya.
  4. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian.
Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk "menantang". Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya."

Maka ada "penantang", yaitu Allah, dan ada "yang ditantang", yaitu bahasa Arab, dan ada "alat penantang", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.

Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan "istiqra" artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut:

  1. Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata.
  2. Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah.
  3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab.
Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk "tahaddi" (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu "menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum". Tariqah ini disebut "Ath-Thariqat Al-Istiqra'iyah" (metode induksi).

Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.

Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini:

Tinjauan Pertama


Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam).

(Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32)

Alasan-alasan mereka ialah:

  1. Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran: بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ Artinya: Dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. Asy Syu'ara' [26]:195); Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah "jelas", tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.
  2. Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah: ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ Artinya: Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QS. Al Baqarah [2]:2); Firman-Nya lagi: قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ Artinya: "....dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman."(QS. Al-Baqarah [2]:97); Firman-Nya lagi: هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ Artinya: (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138) Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi "petunjuk" tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk.
  3. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula: وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS. Al Qamar [068]:17,22,32,dan 40)

Tinjauan Ke·dua

  1. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan "Allah, Latifun, Maujud" (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)
  2. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang. Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)
  3. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk "menantang" (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur'an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9)
  4. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk "menarik perhatian" (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303)
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa "yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk "menantang" bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw."

Dalam ayat ini Allah SWT bersumpah dengan kalam (pena) dan segala macam yang ditulis dengan kalam itu.

Suatu sumpah dilakukan adalah untuk meyakinkan pendengar atau orang yang diajak berbicara bahwa ucapan atau perkataan yang disampaikan itu adalah benar, tidak diragukan sedikitpun. Tetapi sumpah itu kadang-kadang mempunyai arti yang lain yaitu untuk mengingatkan orang yang diajak berbicara atau pendengar bahwa yang dipakai untuk bersumpah itu adalah suatu yang mulia, bernilai, bermanfaat dan berharga. Karena itu perlu dipikirkan dan direnungkan agar dapat menjadi iktibar dan pengajaran dalam kehidupan dunia yang fana ini. Sumpah dalam arti kedua ini adalah sumpah-sumpah Allah SWT yang terdapat dalam surah-surah Alquran, seperti "Wal As ri" (demi masa), "was sama'i" (demi langit), "walfajri" (demi fajar) dan sebagainya.

Seakan-akan dengan sumpah itu Allah SWT mengingatkan kepada manusia agar memperhatikan masa, langit, fajar dan sebagainya, karena segala sesuatu yang berhubungan dengan masa, langit, fajar dan sebagainya itu perlu diperhatikan, karena ada kaitannya dengan hidup dan kehidupan manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sehubungan dengan ini Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir Juz Amma yang dikarangnya, dalam menafsirkan ayat : "wan nazi'ah garqan", (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) beliau menerangkan, "Apabila kita memperhatikan semua yang disebut Allah dalam sumpahnya, maka yang disebut itu ada kalanya berhubungan dengan sesuatu yang diingkari manusia atau dibencinya karena tidak mengetahui faedahnya, atau menganggapnya tidak rasional lalu menyatakannya salah. Atau untuk menyatakan keesaan-Nya kepada orang yang mengingkari-Nya atau menyatakan keagungan-Nya kepada orang yang meremehkan-Nya, atau untuk mengingatkan sesuatu yang dilupakan atau untuk menimbulkan keyakinan pada hati orang yang ragu-ragu atau belum memahami".

Dalam ayat ini, Allah SWT bersumpah dengan kalam dan segala sesuatu yang ditulis dengan kalam itu untuk menyatakan bahwa kalam itu termasuk nikmat yang besar yg dianugerahkan Allah SWT kepada manusia, di samping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Alangkah besarnya nikmat kalam yang dianugerahkan Allah itu. Dengan kalam orang dapat mencatat ajaran agama Allah yang disampaikan kepada para Rasul Nya, orang dapat mencatat pengetahuan-pengetahuan Allah yang bara ditemukannya. Dengan surah yang ditulis dengan kalam orang dapat menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya. Dengan kalam orang dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya; dan banyak lagi nikmat yang diperoleh manusia dengan kalam itu.

Yang dimaksud dengan kalam dalam ayat ini, bukanlah kalam sebagai benda yang terkenal itu, tetapi adalah kalam sebagai alat yang banyak kegunaannya bagi manusia, yang dapat menuliskan buah pikiran, keinginan dan perasaan seseorang.

Ayat:
الم
(Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis), adalah ungkapan bahasa Arab yang indah dan dalam artinya,

seperti indahnya ungkapan ayat:
وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
(QS An Nahl [16]:8)

Ayat ini menerangkan bahwa kuda, bagal dan keledai pada saat turunnya ayat ini adalah binatang-binatang yang dijadikan sebagai alat kendaraan yang utama dan juga dijadikan sebagai perhiasan serta kebanggaan bagi yang mempunyainya. Kemudian Allah SWT menerangkan bahwa Dia akan menciptakan barang-barang yang lain pada masa-masa mendatang yang berfungsi sebagai kendaraan, perhiasan dan kebanggaan bagi siapa yang memilikinya. Atau dengan perkataan yang lain, Allah SWT mengisyaratkan dengan ayat di atas:

  1. Pada masa-masa yang akan datang Allah SWT akan menciptakan bentuk bentuk kendaraan yang lain yang berguna bagi manusia. Di samping berfungsi sebagai kendaraan, juga merupakan perhiasan dan kebanggaan bagi siapa yang memilikinya, seperti mobil, kapal pesiar, pesawat pribadi dan sebagainya.
  2. Dengan isyarat itu, seakan-akan Allah SWT menyuruh manusia berpikir, merenung dan berdaya cipta untuk menghasilkan kendaraan-kendaraan yang dimaksud itu, karena Allah SWT akan mengilhamkan kepada manusia yang mau memikirkannya. Pada masa sekarang telah ditemukan bentuk dan kemampuan suatu kapal ruang angkasa. Tentu saja bentuk dan kemampuan yang diperoleh itu akan disempurnakan, sehingga betul-betul merupakan alat atau kendaraan yang menjadi kebanggaan manusia.
Demikian pula ayat ini, Allah SWT menyebut kalam dan apa yang akan ditulis manusia dengan kalam itu. Pada masa Rasulullah SAW telah dikenal dengan nama dan kegunaan kalam itu, yaitu untuk menulis segala sesuatu yang terasa, yang terpikir dan yang akan disampaikan oleh seorang manusia kepada manusia yang lain. Sekalipun demikian belum berapa manusia yang mempergunakannya pada waktu itu karena masih banyaknya mereka yang buta huruf dan belum berkembangnya ilmu pengetahuan yang ada pada mereka, begitu juga pada masa sekarang. Pada masa Rasulullah SAW kegunaan kalam sebagai sarana menyampaikan agama Allah sangat dirasakan. Dengan kalam ayat-ayat Alquran ditulis di pelepah-pelepah kurma dan tulang-tulang binatang atas perintah Rasulullah. SAW. Demikian pula beberapa orang sahabat Nabi menulis hadis-hadis dengan kalam. Rasulullah SAW sendiri sangat menghargai orang-orang yang pandai menulis dan membaca.

Hal ini nampak pada ketetapan Nabi Muhammad SAW pada perang Badar, yaitu seorang kafir yang ditawan kaum muslimin dapat membebaskan dirinya dengan cara membayar uang tebusan atau mengajar kaum muslimin menulis dan membaca.

Dengan ayat ini, seakan-akan Allah SWT mengisyaratkan kepada kaum muslimin bahwa ilmu-Nya sangat luas, tiada batas dan tiada terhingga. Karena itu carilah dan tuntutlah ilmu Nya yang sangat luas itu agar dimanfaatkan manusia untuk kepentingan duniawi. Untuk mencatat dan menyampaikan ilmu itu kepada orang lain dan agar tidak hilang karena lupa atau seseorang meninggal dunia, dipergunakanlah kalam sebagai alat untuk menuliskannya. Karena itu, kalam erat hubungannya dan tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan ilmu, kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia.

Ayat ini berdekatan masa turunnya dengan ayat Alquran yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, yaitu ayat pertama sampai dengan ayat ke 5 surah Al 'Alaq. Setelah Rasulullah saw menerima ayat permulaan surah Al 'Alaq itu, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan kedinginan. Setelah hilang rasa gentar dan dingin beliau, beliau dibawa Khadijah, istri beliau, ke rumah Waraqah bin Naufal, anak dari saudara ayah Khadijah (saudara sepupu). Maka disampaikanlah semua yang terjadi atas diri Rasulullah di gua Hira' itu kepada Waraqah: "Yang datang kepada Muhammad itu adalah seperti yang pernah datang kepada nabi-nabi sebelumnya; karena itu yang disampaikan malaikat Jibril itu adalah agama yang benar-benar berasal dari Allah SWT. Kemudian Waraqah mengatakan bahwa ia akan mengikuti agama yang dibawa Muhammad itu jika umurnya dipanjangkan Allah SWT.

Setelah orang-orang Quraisy mengetahui pernyataan Waraqah bin Naufal itu dan Rasulullah saw menyampaikan agama Islam kepada mereka, maka mereka menuduh bahwa Muhammad dihinggapi penyakit gila, tukang tenung, ingin memalingkan orang-orang Quraisy dari agama nenek moyang mereka. Karena itu mereka memerintahkan kepada kaum mereka agar jangan sekali-kali mendengar ucapan Muhammad, dan jangan dipercayai bahwa yang diterimanya benar-benar agama dari Allah. Mungkinkah seorang manusia, atau seorang gila atau seorang tukang tenung, dipercayai Allah menyampaikan agama Nya?

Sehubungan dengan sikap Orang-orang Quraisy itu turunlah ayat ini, untuk menguatkan risalah Muhammad SAW, menguatkan hati beliau, mengingatkan karunia yang telah dilimpahkan kepadanya. Seakan-akan Allah SWT mengisyaratkan bahwa agama yang benar dan berasal dari Allah, ialah agama yang mendorong manusia mencari dan menuntut ilmu Nya yang luas itu, kemudian memanfaatkan ilmu itu untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan. Setiap ilmu Allah SWT yang diperoleh itu harus ditulis dengan pena, agar dapat dipelajari dan dibaca oleh orang lain, sehingga ilmu itu berkembang dan manusia dengan ilmu itu akan mencapai kemajuan. Karena itu belajar membaca dan menulis dengan pena itu adalah pangkal kemajuan suatu umat. Seandainya manusia ingin maju, maka galakkanlah belajar menulis dan membaca itu?. Dengan turunnya ayat ini hati Rasulullah SAW bertambah mantap tenang dan kuat untuk melaksanakan tugasnya menyampaikan agama Allah dan beliau mempunyai argumentasi yang kuat pula dalam menghadapi sikap orang orang Quraisy.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Nun) adalah salah satu dari huruf hijaiah, hanya Allahlah yang mengetahui arti dan maksudnya (demi qalam) yang dipakai untuk menulis nasib semua makhluk di Lohmahfuz (dan apa yang mereka tulis) apa yang ditulis oleh para malaikat berupa kebaikan dan kesalehan.
««•»»
Nūn, one of the letters of the alphabet: God knows best what He means by it. By the Pen, with which He has inscribed [the records of] all creatures in the Preserved Tablet, and what they inscribe, that is, the angels, of good and righteousness.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 2]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar