Senin, 24 Agustus 2015

[068] Al Qalam Ayat 019

««•»»
[068] Al Qalam Ayat 019
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 18][AYAT 20]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
19of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=19&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:19

[068] Al Qalam Ayat 018

««•»»
Surah Al Qalam 18

وَلا يَستَثنونَ
««•»»
walaa yastatsnuuna
««•»»
Dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin),
««•»»
and they did not make any exception.[1]
[1] That is, for Allah’s will, by saying, for instance, ‘God willing.’ See 18:24.
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah memberi orang-orang musyrik Mekah nikmat yang banyak yang berupa kesenangan hidup di dunia dan kemewahan-kemewahan dengan maksud untuk mengetahui apakah mereka mau mensyukuri nikmat yang telah diberikan itu dengan mengeluarkan hak-hak orang miskin, memperkenankan seruan Rasul SAW ywg menyeru mereka mengikuti jalan yang benar, tunduk dan taat kepada Allah atau mereka dengan nikmat ini ingin menumpuk harta, menantang seruan Rasul dan menyimpang dari jalan yang benar? Allah akan menimpakan kepada mereka azab yang pedih dan melenyapkan nikmat-nikmat itu dari mereka seandainya mereka tetap ingkar, sebagaimana Allah telah menampakan azab dengan mencabut nikmatnya kepada pemilik-pemilik kebun.

Pemilik kebun itu adalah seorang laki-laki saleh, taat dan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Ia mempunyai sebidang kebun sebagai sumber penghidupannya. Jika ia akan memetik hasil kebunnya itu diberitahukannyalah kepada fakir dan miskin agar mereka datang ke kebunnya, dan langsung memberikan hak-hak mereka yang terdapat dalam hasil kebun itu. Setelah Ia meninggal dunia kebun itu diwarisi oleh anak-anak mereka dan mereka menggarapnya. Pada waktu akan memetik hasil kebun itu mereka pun bermusyawarah apakah mereka tetap melakukan seperti yang telah dilakukan bapak mereka atau mereka membuat rencana baru. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar tetap melakukan apa yang biasa dilakukan bapak mereka, yaitu memberitahukan kepada fakir miskin agar mereka datang pada waktu hari memetik.

Tetapi usul saudara mereka ini ditolak oleh saudara-saudaranya yang lain, sehingga mereka tidak mau memberikan hasil kebun mereka sedikitpun kepada fakir miskin sebagaimana yang telah dilakukan oleh bapaknya. Sekalipun telah diperingatkan oleh saudara yang seorang itu akan bahaya yang mungkin menimpa, tetapi mereka tetap dengan keputusan itu, yaitu memetik kebun itu tanpa memberi tahu lebih dahulu kepada fakir miskin dan seluruh hasil kebun itu akan mereka miliki sendiri tanpa mengeluarkan hak-hak orang lain yang ada di dalamnya. Cerita dilanjutkan pada ayat-ayat berikut:

Maka putra-putra ahli waris pemilik kebun yang mengingkari ketentuan-ketentuan yang biasa dilakukan bapaknya, semasa ia masih hidup, setelah mereka melihat kesuburan tanamannya dan lebatnya buah yang akan mereka petik, mereka pun yakin bahwa semua itu pasti akan menjadi miliknya. Karena itu mereka bersumpah akan memetiknya pagi-pagi benar agar tidak diketahui oleh seorang pun, dan mereka telah berketetapan hati pula tidak akan memberikan hasil kebun itu kepada orang lain walaupun sedikit.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan mereka tidak mengecualikan) di dalam sumpah mereka itu kepada kehendak Allah swt. Ayat ini merupakan jumlah isti`naf atau kalimat permulaan; yakni, kelakuan mereka seperti itu; mereka tidak pernah menggantungkan sumpahnya itu kepada kehendak Allah swt.
««•»»
And they did not make any exception, to their vow, for God’s will (the sentence is a new [syntactically independent] one, in other words: and that was their condition).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 17][AYAT 19]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
18of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=18&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:18

[068] Al Qalam Ayat 017

««•»»
Surah Al Qalam 17

إِنّا بَلَوناهُم كَما بَلَونا أَصحابَ الجَنَّةِ إِذ أَقسَموا لَيَصرِمُنَّها مُصبِحينَ
««•»»
innaa balawnaahum kamaa balawnaa ash-haaba aljannati idz aqsamuu layashrimunnahaa mushbihiina
««•»»
Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari,
««•»»
Indeed we have tested them[1] just as We tested the People of the Garden when they vowed they would gather its fruit at dawn,
[1] That is, the people of Makkah, through famine and hunger.
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah memberi orang-orang musyrik Mekah nikmat yang banyak yang berupa kesenangan hidup di dunia dan kemewahan-kemewahan dengan maksud untuk mengetahui apakah mereka mau mensyukuri nikmat yang telah diberikan itu dengan mengeluarkan hak-hak orang miskin, memperkenankan seruan Rasul SAW ywg menyeru mereka mengikuti jalan yang benar, tunduk dan taat kepada Allah atau mereka dengan nikmat ini ingin menumpuk harta, menantang seruan Rasul dan menyimpang dari jalan yang benar? Allah akan menimpakan kepada mereka azab yang pedih dan melenyapkan nikmat-nikmat itu dari mereka seandainya mereka tetap ingkar, sebagaimana Allah telah menampakan azab dengan mencabut nikmatnya kepada pemilik-pemilik kebun.

Pemilik kebun itu adalah seorang laki-laki saleh, taat dan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Ia mempunyai sebidang kebun sebagai sumber penghidupannya. Jika ia akan memetik hasil kebunnya itu diberitahukannyalah kepada fakir dan miskin agar mereka datang ke kebunnya, dan langsung memberikan hak-hak mereka yang terdapat dalam hasil kebun itu. Setelah Ia meninggal dunia kebun itu diwarisi oleh anak-anak mereka dan mereka menggarapnya. Pada waktu akan memetik hasil kebun itu mereka pun bermusyawarah apakah mereka tetap melakukan seperti yang telah dilakukan bapak mereka atau mereka membuat rencana baru. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar tetap melakukan apa yang biasa dilakukan bapak mereka, yaitu memberitahukan kepada fakir miskin agar mereka datang pada waktu hari memetik.

Tetapi usul saudara mereka ini ditolak oleh saudara-saudaranya yang lain, sehingga mereka tidak mau memberikan hasil kebun mereka sedikitpun kepada fakir miskin sebagaimana yang telah dilakukan oleh bapaknya. Sekalipun telah diperingatkan oleh saudara yang seorang itu akan bahaya yang mungkin menimpa, tetapi mereka tetap dengan keputusan itu, yaitu memetik kebun itu tanpa memberi tahu lebih dahulu kepada fakir miskin dan seluruh hasil kebun itu akan mereka miliki sendiri tanpa mengeluarkan hak-hak orang lain yang ada di dalamnya. Cerita dilanjutkan pada ayat-ayat berikut:

Maka putra-putra ahli waris pemilik kebun yang mengingkari ketentuan-ketentuan yang biasa dilakukan bapaknya, semasa ia masih hidup, setelah mereka melihat kesuburan tanamannya dan lebatnya buah yang akan mereka petik, mereka pun yakin bahwa semua itu pasti akan menjadi miliknya. Karena itu mereka bersumpah akan memetiknya pagi-pagi benar agar tidak diketahui oleh seorang pun, dan mereka telah berketetapan hati pula tidak akan memberikan hasil kebun itu kepada orang lain walaupun sedikit.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka) Kami telah menguji orang-orang musyrik Mekah dengan paceklik dan kelaparan (sebagaimana Kami telah mencoba pemilik-pemilik kebun) atau ladang (ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya) akan memetik buahnya (di pagi hari) di pagi buta, supaya orang-orang miskin tidak mengetahuinya. Maka orang-orang yang memiliki kebun itu mempunyai alasan bila mereka tidak memberikan sedekah kepada mereka; tidak sebagaimana bapak-bapak mereka yang selalu memberikan sebagian dari hasilnya buat orang-orang miskin sebagai sedekahnya.
««•»»
Indeed We have tried them, We have tested the people of Mecca with drought and famine, just as We tried the owners of the garden, the orchard, when they vowed that they would pluck, [that] they would pick its fruits, in the morning, so that the poor folk would not notice them and so that they would not then have to give them of it that [portion] which their father used to give them of it by way of charity.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Ibnu Jarir, Imam Ibnu Abu Hatim dan Imam Wahidi, ketiga-tiganya mengetengahkan sebuah hadis melalui Buraidah. Buraidah menceritakan, bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya mendekat kepadamu dan tidak menjauhimu, dan (aku diperintahkan pula) supaya mengajarimu dan supaya kamu memperhatikan. Suatu keharusan bagimu untuk memperhatikan." Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, ."...dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar."
(QS. Al Haqqah [69]:12)
Hanya saja predikat hadis ini tidak sahih.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 16][AYAT 18]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
17of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=17&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:17

[068] Al Qalam Ayat 016

««•»»
Surah Al Qalam 16

سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ
««•»»
sanasimuhu 'alaa alkhurthuumi
««•»»
Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya) {1492).
{1492) Yang dimaksud dengan belalai di sini ialah hidung. dipakai kata belalai di sini sebagai penghinaan.
««•»»
Soon We shall brand him on the snout.
««•»»

Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang benar-benar sesat dan Allah akan menjadikan mereka hina di dunia. Untuk menyatakan kehinaan mereka itu Allah akan memberi tanda di hidung mereka seakan-akan belalai gajah, sehingga setiap orang mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya. Maksud memberi tanda di hidung mereka ialah semua orang mengetahui bahwa mereka adalah orang jahat dan banyak dosa, sehingga mereka mudah dikenal, seakan-akan mereka telah diberi tanda di hidung mereka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kelak akan Kami beri tanda dia di belalainya) Kami akan menjadikan tanda pada hidungnya, yang menyebabkannya cacat seumur hidup. Maka dia terpotong-potong hidungnya ketika perang Badar.
««•»»
We shall brand him on the snout: We shall leave a distinguishing mark upon his nose, one by which he will be reviled for as long as he lives; and so his nose was chopped off by a sword at Badr.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 15][AYAT 17]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
16of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=16&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:16

Sabtu, 04 Juli 2015

[068] Al Qalam Ayat 015

««•»»
Surah Al Qalam 15

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
««•»»
idzaa tutlaa 'alayhi aayaatunaa qaala asaathiiru al-awwaliina
««•»»
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala."
««•»»
When Our signs are recited to him, he says, ‘Myths of the ancients!’
««•»»

Ayat ini menerangkan sikap orang-orang musyrik Mekah, bila mereka mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, mereka mengatakan bahwa Alquran itu tidak lain adalah perkataan Muhammad saja yang berisi dongeng-dongeng orang dahulu kala, bukan sekali-kali wahyu yang disampaikan Allah kepadanya.

Ayat yang lain yang sama artinya dengan ayat ini ialah.
فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ
Lalu ia berkata, "(Alquran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia".
(QS. Al Mudassir [74]:24-25)

Banyak lagi tuduhan-tuduhan yang dikemukakan orang-orang musyrik terhadap Alquran, seperti perkataan mereka bahwa Alquran itu adalah sihir yang dikemukakan seorang tukang sihir dan sebagainya. Tetapi dari semua tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan itu dapat dipahami bahwa hal itu mereka lakukan semata-mata karena mereka telah kehilangan akal mencari alasan-alasan yang akan mereka kemukakan untuk membantah kebenaran Alquran itu. Setiap mereka renungkan semakin timbul kepercayaan dalam kepada Alquran itu. Namun nafsu mereka masih mengalahkan kebenaran yang telah timbul dalam lubuk hati mereka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami) yakni Alquran (ia berkata) bahwa Alquran itu (dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.") Yaitu hanyalah kedustaan yang sengaja dibuat-buat guna menyenangkan hati kami sewaktu ia disebutkan atau diceritakan. Menurut suatu qiraat ada lafal a-an dengan memakai dua huruf Hamzah yang kedua-duanya difathahkan.
««•»»
When Our signs — the Qur’ān — are recited to him, he says, that they are [merely], ‘Fables of the ancients!’, in other words, he denies them [in arrogance] on account of the mentioned things which We have bestowed on him out of Our grace (a variant reading [for an of the previous verse] has [the interrogative] a-an).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 14][AYAT 16]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
15of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=15&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:15

[068] Al Qalam Ayat 014

««•»»
Surah Al Qalam 14

أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ
««•»»
an kaana dzaa maalin wabaniina
««•»»
Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak {1491}.
{1491} Orang yang mempunyai banyak anak dan harta lebih mudah Dia mendapat pengikut. tapi jika Dia mempunyai sifat-sifat seperti tersebut pada ayat 10-13, tidaklah Dia dapat diikuti.
««•»»
—[only] because he has wealth and children.
««•»»

Dalam ayat ini, Allah SWT memperingatkan Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin, bahwa jangan sekali-kali mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat-sifat di atas, sekalipun ia mempunyai harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, kekuasaan yang besar atau ia merasakan suatu kenikmatan dan kesenangan daniawi yang sifatnya sementara saja. Karena semua itu tidak akan ada manfaatnya di sisi Allah pada hari kiamat nanti.

Allah SWT berfirman:
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا
وَبَنِينَ شُهُودًا
وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا
ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ
كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا
سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا
إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ
فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ
ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ
ثُمَّ نَظَرَ
ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ
ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Alquran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celaka lah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?; kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.
(QS Al Muddassir [74]:11-23)

Dan firman Allah SWT:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu)didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat.
(QS As Syu'ara' [26]:88-91)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Karena dia mempunyai banyak harta dan anak) bentuk asalnya adalah lian, dan bertaalluq kepada makna yang menunjukkan terhadap pengertiannya.
««•»»
[only] because (an should be understood as li-an, ‘because’, and it is semantically connected to that [meaning] which it is indicating) he has wealth and sons.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 13][AYAT 15]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
14of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=14&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:14

[068] Al Qalam Ayat 013

««•»»
Surah Al Qalam 13

عُتُلٍّ بَعدَ ذٰلِكَ زَنيمٍ
««•»»
'utullin ba'da dzaalika zaniimin
««•»»
Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,
««•»»
callous and, on top of that, baseborn,
««•»»

Dalam ayat-ayat berikut ini, Allah SWT memerintahkan agar Nabi Muhammad SAW waspada dan hati-hati terhadap orang-orang yang mempunyai sifat-sifat berikut, yakni:

Pertama

Jangan sekali-kali mengikuti keinginan orang-orang yang mudah mengucapkan sumpah, karena yang suka bersumpah itu hanyalah orang pendusta. Sedang dusta itu pangkal kejahatan dan sumber segala macam perbuatan maksiat, karena itu pulalah agama Islam menyatakan bahwa dusta itu salah satu dari tanda-tanda orang munafik.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَّبَ وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga perkara jika ia berbicara ia berdusta, jika ia dipercaya ia khianat dan jika ia berjanfi ia menyalahi janjinya itu".
(HR. Bukhari, lihat Mujam Mufahras Li Alfazil Hadis Nabawi, hal 433, jilid I)

Orang yang suka bersumpah adalah orang yang tidak baik pikirannya, maksudnya kepada orang lain ia menyangka bahwa orang lain demikian pula kepadanya. Karena itu untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran dirinya, iapun bersumpah.

Ke·dua

Jangan mengikuti orang yang berpikiran hina dan menyesatkan.

Ke·tiga

Jangan mengikuti orang yang selalu mencela orang lain, menyebut-nyebut keburukan orang lain baik secara langsung atau tidak.

Ke·empat

Jangan mengikuti orang-orang yang suka memfitnah seperti menghadang seorang agar tidak senang kepada seseorang yang lain, usaha menimbulkan kekacauan. Allah SWT menyatakan bahwa fitnah itu lebih besar akibatnya dari pembunuhan.

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah), dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.
(QS Al Baqarah [2]:191)

Ke·lima

Jangan mengikuti orang-orang yang selalu melarang, dan menghalangi orang lain berbuat kebaikan atau dia sendiri tidak akan berbuat baik lagi.

Abu Bakar pernah bersumpah tidak akan memberi nafkah Mistah bin Usasah lagI, karena Mistah termasuk orang yang ikut menuduh Aisyah berbuat zina dengan Sofwan. Tidak akan memberi nafkah seseorang lagi termasuk tidak akan berbuat kebaikan lagi, karena itu turun ayat 224 surah Al Baqarah yang memerintahkan Abu Bakar segera melanggar sumpahnya itu dengan membayar kifarat sumpah.

Yaitu:
وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebaikan, bertakwa dan mengadakan islah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS Al Baqarah [2]:224)

Ke·enam

Dilarang mengikuti orang yang biasa mengerjakan perbuatan yang melampaui batas, seperti orang-orang yang suka melanggar perintah Allah dan tidak menghentikan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya.

Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.
(QS An Nisa' [4]:14)

Ke·tujuh

Dilarang mengikuti orang-orang yang biasa mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Orang yang biasa mengerjakan perbuatan dosa dan maksiat adalah orang yang tidak mempunyai harga diri dan akhlak yang baik, karena perbuatan dosa itu akan menghilangkan harga diri dan bertentangan dengan akhlak yang mulia. Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa.

Allah SWT berfirman:
وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا
Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.
(QS An Nisa' [4]:107)

Ke·delapan

Dilarang mengikuti orang-orang yang suka berbuat kejam dan tidak mempunyai sifat belas kasihan. Allah SWT Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba Nya. Karena itu sifat kejam dan tidak mempunyai rasa belas kasihan adalah berlawanan dengan sifat-sifat Allah. Salah Satu sebab agama Islam tersiar dengan cepat di Jazirah Arab, ialah karena sikap Nabi Muhammad SAW yang yang lemah lembut, seandainya Nabi Muhammad SAW bersikap kasar dan kejam, niscaya orang akan menghindari beliau.

Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ
Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
(QS Ali Imram [3]:159)

Ke·sembilan

Dilarang mengikuti orang-orang yang tidak diketahui asal usulnya. Yang dimaksud dengan orang yang tidak diketahui asal-usulnya ialah:
  • Orang-orang yang tidak diketahui keadaannya, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, bagaimana budi pekertinya dan sebagainya.
  • Orang yang tidak diketahui asal keturunannya.
Sehubungan dengan huruf b di atas, maka agama Islam mensyariatkan perkawinan, sehingga dengan adanya perkawinan itu keadaan seseorang dapat diketahui dengan mudah, demikian pula asal kampung halamannya. Jika tidak ada perkawinan maka sukar untuk mengetahui asal usul seseorang, siapa ayah dan ibunya dan sebagainya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Yang kaku kasar) wataknya kaku lagi kasar (selain dari itu, yang terkenal kejahatannya) dia adalah seseorang yang dianggap sebagai orang Quraisy, padahal dia bukan dari kalangan mereka, yaitu Walid bin Mughirah. Ayahnya menjulukinya sebagai orang Quraisy setelah ia berumur delapan belas tahun. Ibnu Abbas r.a. mengatakan, bahwa kami belum pernah mengetahui, bahwa Allah swt. menyifati seseorang dengan sifat-sifat yang tercela sebagaimana yang telah dilakukan-Nya terhadap Walid, sehingga keaiban itu tetap menempel pada diri Walid untuk selama-lamanya. Dan bertaalluq kepada lafal zaniim, zharaf yang terdapat pada sebelumnya.
««•»»
coarse-grained, crude, moreover ignoble, an adopted son of Quraysh — namely, al-Walīd b. al-Mughīra, whose father claimed him after eighteen years; Ibn ‘Abbās said, ‘We know of no one whom God has described in the derogatory way in which He describes him, blighting him with ignominy that will never leave him (the adverbial qualifier [ba‘da dhālika, ‘moreover’] is semantically connected to zanīm, ‘ignoble’) —

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 12][AYAT 14]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
13of52
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=68&tAyahNo=13&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#68:13